Ciri-ciri Ulama Pewaris Nabi dan Ulama Suu’ (Jahat)


News jambi -

1.Ciri ciri ulama pewaris nabi :


Tidak semua manusia di muka bumi ini menjadi pewaris
Nabi. Ada orang-orang tertentu yang dipilih, dan telah
memiliki sifat-sifat yang memenuhi kriteria sebagai
seorang ulama pewaris Nabi.
Predikat terbaik bagi seorang ahli ilmu adalah menjadi
pewaris Nabi, dan sebaik-baik para makhluk adalah
pewaris Nabi.
Ibnu Abbas berkata, “Ulama’ ialah orang-orang yang
mengetahui bahawa sesungguhnya Allah Maha Berkuasa
atas setiap sesuatu”. Dan tambahnya lagi,” Orang alim
ialah mereka yang tidak melakukan syirik kepada Allah
dengan sesuatu pun, serta dia menghalalkan apa yang
dihalalkan-Nya dan mengharamkan apa yang
diharamkan-Nya.
Ciri-ciri ulama’ pewaris nabi yang pertama ialah takut
akan Allah SWT. Hal ini sebagaimana Firman Allah.
ﺇﻧﻤﺎ ﻳﺨﺸﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻣﻦ ﻋﺒﺎﺩﻩ ﺍﻟﻌﻠﻤــﺆﺍ ﺇﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﺰﻳﺰ ﻏﻔﻮﺭ
“….. Sesungguhnya golongan yang paling takut kepada
Allah di antara hamba-hambaNya ialah para ulama’.
Sesungguhya Allah Maha Perkasa lagi Maha
Pengampun,”(QS. Al-Fathir: 28)
Ibnu Abbas berkata, “Sesiapa yang takut akan Allah,
maka dia adalah orang alim”.
Ciri kedua ialah beramal dengan segala ilmunya.
Sebagaimana sebuah hadist dalam Sunan Ad-Darimi :
ﻓَﺈِﻧَّﻤَﺎ ﺍﻟﻌَﺎﻟِﻢ ﻣَﻦْ ﻋَﻤِﻞَ ﺑِﻤَﺎ ﻋَﻠِﻢ
“Sesungguhnya orang alim itu adalah orang yang
beramal dengan apa yang dia ketahui.”
Sayyidina Ali berkata, “Wahai orang yang mempunyai
ilmu! beramallah kamu dengannya karena sesungguhnya
orang yang alim itu adalah orang yang beramal dengan
ilmu yang dia ketahui, serta selaras antara ilmunya
dengan amalannya”.
Ciri ketiga hatinya bersih daripada syirik dan maksiat,
serta tidak tamak kepada makhluk di dunia.
Ibnu Umar berkata, “Tiadalah seseorang lelaki itu
dianggap alim sehingga dia tidak hasad dengki kepada
orang yang lebih alim daripadanya, tidak menghina
orang yang kurang daripadanya serta tidak mencari
dengan ilmunya upahan kebendaan”.

Ciri keempat ulama’ ini meneruskan tugas nabi, yaitu
mengajar, mendidik, membersihkan hati umat daripada
syirik dan maksiat serta berdakwah dan memerintah
mengikut perintah Allah.
Hal ini sebagaimana kita fahami dalam ayat 2 surah al-
Jumaah,
ﻫﻮ ﺍﻟﺬﻱ ﺑﻌﺚ ﻓﻰ ﺍﻷﻣﻴﺌﻦ ﺭﺳﻮﻻ ﻣﻨﻬﻢ ﻳﺘﻠﻮﺍ ﻋﻠﻴﻬﻢ ﺀﺍﻳــﺘﻪ ﻭﻳﺰﻛﻴﻬﻢ
ﻭﻳﻌﻠﻤﻬﻢ ﺍﻟﻜﺘﺐ ﻭﺍﻟﺤﻜﻤﺔ ﻭﺇﻥ ﻛﺎﻧﻮﺍ ﻣﻦ ﻗﺒﻞ ﻟﻔﻰ ﺿﻠــﻞ ﻣﺒﻴﻦ
“Dialah (Allah) yang telah mengutuskan kepada kalangan
orang-orang arab yang buta huruf seorang rasul dari
bangsa mereka sendiri yang membacakan ayat-ayat
Allah yang membuktikan keesaan Allah dan
kekuasaanNya. Dan membersihkan mereka daripada
aqidah yang sesat serta mengajarkan mereka kitab Allah
dan hikmat pengetahuan yang mendalam mengenai
hukum-hukum syariat. Dan sesungguhnya mereka
sebelum kedatangan nabi Muhammad SAW adalah
dalam kesesatan yang nyata.”

Itulah ciri-ciri ulama yang memegang warisan Nabi,
mereka akan senantiasa mengajak kebaikan dibanding
dengan sesuatu hal yang sia-sia.
Maka dari itu, sesiapa saja yang ingin mendapatkan
warisan Nabi, maka ikutilah sifat-sifat di atas, sehingga
keuntungan amalanlah yang akan diraih, wallahu a’alam.





2.Ciri ciri ulama suu'(jahat)  :


Ulama’ dalam pandangan Islam memiliki
kedudukan yang sangat mulia. Sebab mereka lah
orang yang memahami kitab Allah dan sunnah
Rasulullah saw. Pemahaman itu menjadi bekal
baginya untuk meniti kehidupan yang benar dan
menunjukkan masyarakat untuk berjalan di jalan
yang benar. Sehingga, dengan segala kelebihan
itulah Rasulullah menyebutnya sebagai pewaris
para nabi.
Dalam perumpamaan yang lain, para ulama adalah
seperti bintang di langit. Bintang memberikan
petunjuk arah di tengah gelapnya malam.
Sedangkan ulama’ menjadi fasilitator bagi umat ini
untuk mendapatkan petunjuk di tengah gelapnya
jahiliyah. Merekalah yang menjelaskan kepada
ummat ini jalan petunjuk dan keistiqomahan di
atas pentunjuk tersebut. Dengan merekalah ummat
paham tentang jalan yang buruk dan cara
menjauhinya.
Akan tetapi, seiring dengan berjalannya waktu,
tersebarlah berbagai fitnah di tengah umat islam
ini. Di antara fitnah yang paling mematikan
keberagamaan umat ini adalah, munculnya para
ulama’ su’. Ulama’ su’ adalah ulama’ jahat.
Dikatakan jahat, karena mereka bukannya
menunjukkan jalan yang benar kepada umat,
namun justru rakus kepada kehidupan dunia. Dan
akhirnya mereka menjual agamanya untuk
kemaslahatan dunianya. Kadang mereka lebih fasih
dan lebih mudah untuk diterima penjelasannya.
Bahkan metodenyapun juga berfariasi sehingga
ummat banyak yang tertarik terhadap mereka.
Ketertarikan itulah yang kemudian menjadikan
sebagian umat ini ngefans terhadap para ulama’
su’ tersebut. Padahal mereka pada hakekatnya di
atas kesesatan. Tentang mereka ini, Anas bin
Malik ra. menuturkan sebuah hadis:
ﻭَﻳْﻞٌ ِﻷُﻣَّﺘِﻲْ ﻣِﻦْ ﻋُﻠَﻤَﺎﺀِ ﺍﻟﺴُّﻮْﺀِ ﻳَِﺘَّﺨِﺬُﻭْﻥَ ﻫَﺬَﺍ ﺍﻟْﻌِﻠْﻢَ ﺗِﺠَﺎﺭَﺓً ﻳَﺒِﻴْﻌُﻮْﻧَﻬَﺎ
ﻣِﻦْ ﺃُﻣَﺮَﺍﺀِ ﺯَﻣَﺎﻧِﻬِﻢْ ﺭِﺑْﺤﺎً ِﻟﻸَﻧْﻔُﺴِﻬِﻢْ ﻻَ ﺃَﺭْﺑَﺢَ ﺍﻟﻠﻪُ ﺗِﺠَﺎﺭَﺗَﻬُﻢْ
Kebinasaan bagi umatku (datang) dari ulama su’
mereka menjadikan ilmu sebagai barang dagangan
yang mereka jual kepada para penguasa masa
mereka untuk mendapatkan keuntungan bagi diri
mereka sendiri. Allah tidak akan memberikan
keuntungan dalam perniagaan mereka itu. (HR al-
Hakim)
Sayidina Anas ra juga meriwayatkan:
ﺍﻟْﻌُﻠَﻤَﺎﺀُ ﺃَﻣَﻨَﺎﺀُ ﺍﻟﺮُّﺳُﻞِ ﻣَﺎ ﻟَﻢْ ﻳُﺨَﺎﻟِﻄُﻮْﺍ ﺍﻟﺴُّﻠْﻄَﺎﻥَ ﻭَ ﻳُﺪَﺍﺧِﻠُﻮْﺍ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ
ﻓَﺎِﺫَﺍ ﺧَﺎﻟَﻄُﻮْﺍ ﺍﻟﺴُّﻠْﻄَﺎﻥَ ﻭَ ﺩَﺍﺧَﻠُﻮْﺍ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﻓَﻘَﺪْ ﺧَﺎﻧُﻮْﺍ ﺍﻟﺮُّﺳُﻞَ
ﻓَﺎﺣْﺬَﺭُﻭْﻫُﻢْ ﻭَﻓِﻲْ ﺭِﻭَﺍﻳَﺔٍ ﻟِﻠْﺤَﺎﻛِﻢِ ﻓَﺎﻋْﺘَﺰِﻟُﻮْﻫُﻢْ
Ulama adalah kepercayaan para rasul selama
mereka tidak bergaul dengan penguasa dan tidak
asyik dengan dunia. Jika mereka bergaul dengan
penguasa dan asyik dengan dunia maka mereka
telah mengkhianati para rasul. Karena itu, jauhilah
mereka . (HR al-Hakim)
ﻗﺎﻝ ﻋﻤﺮ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ : ﺇﻥ ﺃﺧﻮﻑ ﻣﺎ ﺃﺧﺎﻑ ﻋﻠﻰ ﻫﺬﻩ ﺍﻷﻣﺔ
ﺍﻟﻤﻨﺎﻓﻖ ﺍﻟﻌﻠﻴﻢ . ﻗﺎﻟﻮﺍ : ﻭﻛﻴﻒ ﻳﻜﻮﻥ ﻣﻨﺎﻓﻘﺎً ﻋﻠﻴﻤﺎً؟ ﻗﺎﻝ : ﻋﻠﻴﻢ
ﺍﻟﻠﺴﺎﻥ ﺟﺎﻫﻞ ﺍﻟﻘﻠﺐ ﻭﺍﻟﻌﻤﻞ .
Sayyidina Umar Bin Khoththob ra berkata
“Sesungguhnya paling mengkhawatirkannya yang
aku khawatirkan dari umat ini adalah para munafiq
yang berilmu”
Para sahabat bertanya “Bagaimana orang munafiq
tapi ia alim?”
Sayyidina Umar menjawab “Mereka alim dalam
lisannya tapi tidak dalam hati dan amaliahnya”
Riwayat lain dari Abu Hurairah, Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;
ﻣَﻦْ ﺗَﻌَﻠَّﻢَ ﻋِﻠْﻤًﺎ ﻣِﻤَّﺎ ﻳُﺒْﺘَﻐَﻰ ﺑِﻪِ ﻭَﺟْﻪُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻋَﺰَّ ﻭَﺟَﻞَّ ﻻَ ﻳَﺘَﻌَﻠَّﻤُﻪُ ﺇِﻻَّ
ﻟِﻴُﺼِﻴﺐَ ﺑِﻪِ ﻋَﺮَﺿًﺎ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﻟَﻢْ ﻳَﺠِﺪْ ﻋَﺮْﻑَ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟْﻘِﻴَﺎﻣَﺔِ
“Barangsiapa yang mempelajari suatu ilmu (belajar
agama) yang seharusnya diharap adalah wajah
Allah, tetapi ia mempelajarinya hanyalah untuk
mencari harta benda dunia, maka dia tidak akan
mendapatkan bau wangi surga di hari kiamat.” (HR.
Abu Daud no. 3664, Ibnu Majah no. 252 dan
Ahmad 2: 338)
Rasulullah saw. bersabda:
« ﺃَﻻَ ﺇِﻥَّ ﺷَﺮَّ ﺍﻟﺸَّﺮِّ ﺷِﺮَﺍﺭُ ﺍﻟْﻌُﻠَﻤَﺎﺀِ ﻭَﺇِﻥَّ ﺧَﻴْﺮَ ﺍﻟْﺨَﻴْﺮِ ﺧِﻴَﺎﺭُ ﺍﻟْﻌُﻠَﻤَﺎﺀِ »
Ingatlah, sejelek-jelek keburukan adalah keburukan
ulama dan sebaik-baik kebaikan adalah kebaikan
ulama. (HR ad-Darimi) .
Abu Hurairah ra. menuturkan hadis:
ﻣَﻦْ ﺃَﻛَﻞَ ﺑِﺎﻟْﻌِﻠْﻢِ ﻃَﻤَﺲَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻴْﻨَﻴْﻪِ ‏( ﺃَﻭْ ﻭَﺟْﻬَﻪُ ﻓﻲِْ ﺭِﻭَﺍﻳَﺔِ ﺍﻟﺪَّﻳْﻠَﻤِﻲْ ‏)
ﻭَﻛَﺎﻧَﺖِ ﺍﻟﻨَّﺎﺭُ ﺃَﻭْﻟَﻰ ﺑِﻪِ
Siapa yang makan dengan (memperalat) ilmu,
Allah MEMBUTAKAN KEDUA MATANYA (atau
wajahnya di dalam riwayat ad-Dailami), dan neraka
lebih layak untuknya. (HR Abu Nu‘aim dan ad-
Dailami) .
Al Allamah Al-Minawi dalam Faydh al-Qadîr Syarah
Jami’ Shogir dari Imam Syuyuthi , mengatakan:
“Bencana bagi umatku (datang) dari ulama sû’,
yaitu ulama yang dengan ilmunya bertujuan
mencari kenikmatan dunia, meraih gengsi dan
kedudukan. Setiap orang dari mereka adalah
tawanan setan. Ia telah dibinasakan oleh hawa
nafsunya dan dikuasai oleh kesengsaraannya.
Siapa saja yang kondisinya demikian, maka
bahayanya terhadap umat datang dari beberapa
sisi. Dari sisi umat; mereka mengikuti ucapan-
ucapan dan perbuatan-perbuatannya. Ia
memperindah penguasa yang menzalimi manusia
dan gampang mengeluarkan fatwa untuk
penguasa. Pena dan lisannya mengeluarkan
kebohongan dan kedustaan. Karena sombong, ia
mengatakan sesuatu yang tidak ia
ketahui.” ( Faydh al-Qadîr , VI/369.)

Karena semua itu, Hujjatul Islam Imam al-Ghazali
mengingatkan;
“Hati-hatilah terhadap tipudaya ulama su’.
Sungguh, keburukan mereka bagi agama lebih
buruk daripada setan. Sebab, melalui merekalah
setan mampu menanggalkan agama dari hati
kaum Mukmin. Atas dasar itu, ketika Rasul saw
ditanya tentang sejahat-jahat makhluk, Beliau
menjawab, “Ya Allah berilah ampunan.” Beliau
mengatakannya sebanyak tiga kali, lalu bersabda,
“Mereka adalah ulama sû’ .”
Saat ini, adakah ulama su? Sepertinya banyak…
bergelar ulama atau intelektual muslim, tapi
berusaha menjauhkan muslim dari Islam dengan
menafsirkan al Quran dan as Sunnah sekehendak
nafsu mereka. Mereka menjilat ke penguasa dan
menjadikan kaum kafir sebagai karib-karibnya.
Betapa besar ancamannya, Allah akan BUTAKAN
MATA MEREKA… Na‘ûdzu billâh min syarr
al-‘ulamâ’ as-sû’.

loading...

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Ciri-ciri Ulama Pewaris Nabi dan Ulama Suu’ (Jahat)"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

loading...

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel