Nashoihul Ibad dan Terjemahan online


News jambi berita99 - Kitab Nashoihul Ibad dan terjemahan
 (نصائح العباد شرح المنبهات
 على الإستعداد ليوم المعاد لنووي الجاوي)

Berikut ini adalah salah satu kitab karangan Syeikh Nawawi Al-Bantani guru besar sekaligus bapak pesantren di Indonesia:

Kitab Nashaihul 'Ibad ini sangat populer di seluruh penjuru negeri Islam, baik di Timur Tengah, Asia, dan Afrika. Di Indonesia sendiri, kitab ini merupakan buku rujukan di kalangan madrasah diniah dan pesantren. Penyusunnya adalah Syeikh Imam Nawawi al-Bantani (1813-1897), seorang ulama besar dari Banten, yang pernah menjadi Imam Masjidil Haram, dan karya-karyanya banyak menjadi rujukan di Universitas al-Azhar, Kairo, Mesir. Tak heran jika ia mendapat julukan “Bapak Kitab Kuning Indonesia”.

Isi kitab ini sangat pas untuk setiap muslim yang ingin mempraktikkan ajaran-ajaran agama dalam segala sendi kehidupan. Isinya merupakan penjelasan (syarah) terhadap 1055 nasihat/himbauan yang sebelumnya telah disusun oleh Ibnu Hajar al-Asqolani dalam kitab Al-Musytamal 'ala Al-Mawa'izh (Kumpulan Nasihat).

Pokok-pokok masalah yang disampaikan kitab ini benar-benar sangat dibutuhkan oleh umat. Bersumber Al-Qur’an, Hadis, dan puluhan ucapan para sahabat serta petuah dari para ulama salaf. Tema-tema besarnya diutarakan secara unik berdasarkan hitungan angka sehingga mudah diingat dan dicerna.

Sebagai contoh, dua indikasi tingkat makrifat, tiga cara menghilangkan kesusahan, empat hal sedikit yang terasa banyak, lima kegelapan dan penerangnya, enam tanda taubat diterima, tujuh kerugian orang bakhil, delapan perkara yang tidak pernah terpuaskan, sembilan sumber dosa dan sepuluh penyebab matinya hati.

Yang pasti, membaca buku ini bisa membuat pembaca lebih bijak, hidup lebih tenang, dan segala urusan pasti ada solusinya. Sebuah kitab pegangan spiritual untuk Anda yang mendambakan kedamaian hati dan kebahagiaan hidup dunia-akhirat.

Catatan :
Ingat saat Ngaji Kitab ini di Seorang Kiai Kampung di  Bureng yang masih menggunakan kitab dengan ada arti perkata yang ditulis Arab Pego ( Kitab Jenggot ) di K. Ridwan Abdurrahman dan dilanjutkan saat sudah menginjak remaja kembali Ngaji kitab ini kembali di Kyai Mashuri Idris Ketintang yang saat itu sudah menggunakan kitab kuning ( Kitab gundul )
Banyak pelajaran yang diambil dalam kitab ini tetapi memang sulit untuk mengamalkannya tanpa adanya Hidayah dan Pertolongan Alloh serta Ridho dari Kyai

Nashoih Al-Ibad Syarh Al-Munabbihat
نصائح العباد شرح المنبهات على الإستعداد ليوم المعاد لنووي الجاوي

Alhamdulillah, dan pada akhirnya setiap santri maupun orang awam pun
bisa mengkaji kitab yang sangat populer karangan  Al Alim Alamah
Syaikhina Nawawi Al Bantany. Semoga denga sajian Kitab Kuning Nashoihul
Ibad Versi Terjemahan ini bisa dirasakan semua kalangan, Khususnya umat
Islam. Amin Yaa Robbal ‘alamin.

Bismillahirahmanirahim, Qola Mu'alif Rohimakumullah Wa'anfaana Fi
'ulumihi Fidaroini Amin.

Maqolah 1
Diriwayatkan dari Nabi SAW, sesungguhnya Beliau bersabda (Ada dua
perkara, tidak ada sesuatu yang lebih utama dari dua perkara tersebut,
yaitu iman kepada Allah dan berbuat kebajikan kepada sesama muslim).
Baik degan ucapan atau kekuasaannya atau dengan hartanya atau dengan
badannya.
RasuuluLlah SAWW bersabda, (barang siapa yang pada waktu pagi hari tidak
mempunyai niat untuk menganiaya terhadap seseorang maka akan diampuni
dosa-dosanya yang telah lalu. Dan barang siapa pada waktu pagi hari
memiliki niat memberikan pertolongan kepada orang yang dianiaya atau
memenuhi hajat orang islam, maka baginya mendapat pahala seperti pahala
hajji yang mabrur).
Dan Nabi SAW bersabda (Hamba yang paling dicintai Allah Ta’ala adalah
yang paling bermanfaat bagi orang lain. Dan amal yang paling utama
adalah membahagiakan hati orang mukmin dengan menghilangkan laparnya,
atau menghilangkan kesusahannya, atau membeyarkan hutangnya. Dan ada dua
perkara, tidak ada sesuatu yang lebih buruk dari dua tersebut yaitu
syirik kepaad Allah dan mendatangkan bahaya kepada kaum muslimin).
Baik membahayakan atas badannya, atau hartanya. Karena sesungguhnya
semua perintah Allah kembali kepada dua masalah tersebut. Mengagungkan
Allah dan berbuat baik kepada makhluknya, sebagaimana firman Allah
Ta’ala Dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Dan firman Allah Ta’ala
Hendaklah kamu bersyukur kepadaKu dan kepada kedua orang tuamu.

Maqolah 2
Nabi SAW bersabda, (wajib bagi kamu semua untuk duduk bersama para
‘Ulama) artinya yang mengamalkan ilmunya, (dan mendengarkan kalam para
ahli hikmah) artinya orang yang mengenal Tuhan.
(Karena sesungguhnya Allah Ta’ala akan menghidupkan hati yang mati
dengan cahaya hikmah-ilmu yang bermanfaat- sebagaimana Allah
menghidupkan bumu yang mati dengan air hujan). Dan dalam riwayat lain
dari Thabrani dari Abu Hanifah “Duduklah kamu dengan orang dewasa, dan
bertanyalah kamu kepada para ‘Ulama dan berkumpulah kamu dengan para
ahli hikmah” dan dalam sebuah riwayat, “duduklah kamu degan para ulama,
dan bergaulah dengan kubaro’ ”. Sesungguhnya Ulama itu ada dua macam, 1.
orang yang alim tentang hukum-hukum Allah, mereka itulah yang memiliki
fatwa, dan 2. ulama yang ma’rifat akan Allah, mereka itulah para hukama’
yang dengan bergaul dengan mereka akan dapat memperbaiki akhlak, karena
sesungguhnya hati mereka telah bersinar sebab ma’rifat kepada Allah
demikian juga sirr  rahasia mereka telah bersinar disebabkan nur
keagungan Allah. Telah bersabda Nabi SAW, akan hadir suatu masa atas
umatku, mereka menjauh dari para ulama dan fuqaha, maka Allah akan
memberikan cobaan kepada mereka dengan tiga cobaan, 1. Allah akan
menghilangkan berkah dari rizkinya. 2. Allah akan mengirim kepada mereka
penguasa yang zalim 3. Mereka akan keluar meninggalkan dunia tanpa
membawa iman kepada Allah Ta’ala Na’udzubiLlahi min dzaalik.

Maqolah 3
Dari Abi Bakar As-Shiddiq RA (Barang siapa yang memasuki kubur tanpa
membawa bekal yaitu berupa amal shalih maka keadaannya seperti orang
yang menyeberangi lautan tanpa menggunakan perahu). Maka sudahlah pasti
ia akan tenggelam dengan se tenggelam-tenggelamnya dan tidak mungkin
akan selamat kecuali mendapatkan pertolongan oleh orang-orang yang dapat
menolongnya.. sebagaimana sabda Rasulullah SAW, tidaklah seorang mayat
yang meninggal itu, melainkan seperti orang yang tenggelam yang meminta
pertolongan.

Maqolah 4
Dari ‘Umar RA, -dinukilkan dari Syaikh Abdul Mu’thy As-sulamy,
sesungguhnya Nabi SAW bertanya kepada Jibril AS, ‘Beritahukan kepadaku
sifat kebaikan sahabat ‘Umar’. Maka Jibril menjawab, ‘Jika saja lautan
dijadikan tinta dan tumbuh-tumbuhan dijadikan pena niscaya tidak akan
uckup melukiskan sifat kebaikannya. Kemudian Nabi bersabda, beritahukan
kepadaku kebaikan sifat Abu Bakar,”. Maka Jibril menjawab, ”’Umar
hanyalah satu kebaikan dari beberapa kebaikan Abu Bakar RA.
‘Umar RA berkata, (kemuliaan dunia dengan banyaknya harta. Dan kemuliaan
akhirat adalah dengan bagusnya amal). Maksudnya, urusan dunia tidak akan
lancar dan sukses kecuali dengan dukungan harta benda. Demikian pula
perkara akhirat tidak akan menjadi sempuran kecuali dengan amal
perbuatan yang baik.

Maqolah 5
Dari ‘Utsman RA. (menyusahi dunia akan menggelapkan hati. Dan menyusahi
akhirat akan menerangkan hati). Artinya, menyusahi urusan yang
berhubungan dengan urusan dunia maka akan menjadikan hati menjadi gelap.
Dan menyusahi perkara yang berhubungan dengan urusan akhirat akan
menjadaikan hati menjadi terang. Yaa Allah jangan jadikan dunia
sebesar-besar perkara yang kami susahi, dan bukan pula puncak ilmu kami.

Maqolah 6
Dari ‘Aly RA wa KarramaLlaahu Wajhah. (Barang siapa yang mencari ilmu
maka surgalah sesungguhnya yang ia cari. Dan barang siapa yang emncari
ma;siyat maka sesungguhnya nerakalah yang ia cari) Artinya barang siapa
yang menyibukkan diri denagn mencari ilmu yang bermanfaat, yang mana
tidak boleh tidak bagi orang yang aqil baligh untuk mengetahuinya maka
pada hakekatnya ia mencari surga dan mencari ridho Allah SWT. Dan barang
siapa yang menginginkan ma’siyat, maka pada hakekatnya nerakalah yang ia
cari, dan kemarahan Allah Ta’ala.

Maqolah 7
Dari Yahya bin Muadz RA. (Tidak akan durhaka kepada Allah orang-orang
yang mulia) yaitu orang yang baik tingkah lakunya Yaitu mereka yang
memuliakan dirinya dengan menghiasinya dengan taqwa dan menjaga diri
dari ma’siyat. (Dan tidak akan memilih dunia dari pada akhirat
orang-orang yang bijaksana) Artinya orang bijak  hakiim tidak akan
mendahulukan atau mengutamakan urusan dunia dari pada urusan akhirat.
Adapun orang hakiim adalah orang yang mencegah dirinya dari pada
bertentangan dengan kebenaran akal sehatnya.


Maqolah 8
Dari A’Masy, naam lengkapnya adalah Abu Sulaiman bin Mahran AL-Kuufy RA.
(Barang siapa yang bermodalkan taqwa, maka kelulah lidah untuk
menyebutkan sifat keberuntungannya dan barang siapa yang bermodalkan
dunia, maka kelulah lidah untuk menyebut sebagai kerugian dalam hal
agamanya). Artinya barang siapa yang bermodalkan taqwa dengan
melaksanakan perintahNya dan menjauhi laranganNya dimana dasar dari amal
perbuatannya adalah selalu bersesuaian dengan syari’at, maka baginya
pasti mendapatkan kebaikan yang sangat besar tanpa dapat dihitung dalam
hal kebaikan yang diperolehnya.
Dan kebalikannya barang siapa yang perbuatannya selalu berseberangan
dengan hukum syari’at, maka baginya kerugian yang sangat besar bahkan
lidahpun sampai tidak dapat menyebutkannya.

Maqolah 9
Diriwayatkan dari Sufyan Atsauri, beliau adalah guru dari Imam Malik RA.
( Setiap ma’siyat yang timbul dari dorongan syahwat yaitu keinginan
yangteramat sangat akan sesuatu maka dapat diharapkan akan mendapat
ampunanNya. Dan setiyap ma’siyat yang timbul dari takabur atau sombong
yaitu mendakwakan diri lebih utama atau mulia dari yang lain , maka
maksiyat yang demikian ini tidak dapat diharapkan akan mendapat ampunan
dari Allah). Karena maksiyat iblis berasal dari ketakaburannya yang
tidak mau hormat kepada Nabi Adam AS atas perintah Allah dimana ia
menganggap dirinya lebih mula dari Nabi Adam AS yang diciptakan dari
tanah sedangkan iaiblis diciptakan dari api. Dan sesungguhnya kesalahan
Nabi
Adam AS adalah karena keinginannya yang teramat sangat untuk memakan
buah yang dilarang oleh Allah untuk memakannya.

Maqolah 10
Dari sebagian ahli zuhud yaitu mereka yang menghinakan kenikmatan dunia
dan tidak peduli dengan nya akan tetapi mereka mengambil dunia sekedar
dharurahdarurat sesuai kebutuhan minimumnya. (Barang siapa yang
melakukan perbuatan dosa dengan tertawa bangga, maka Allah akan
memasukkannya ke dalam neraka dalam keadaan menangis- karena seharusnya
ia menyesal dan memohon ampunan kepada Allah bukannya berbangga hati.
Dan barang siapa yang ta’at kepada Allah dengan menangis- karena malu
kepada Allah dan Takut kepadaNya karena merasa banyak kekurangan dalam
hal ta’at kepaadNya Maka Allah akan memasukkanNya ke dalam surga dalam
keadaan tertawa gembira. ) dengan sebenar-benar gembira karena
mendapatkan apa yang menjadi tujuannya selama ini yaitu ampunan dari Allah.

Maqolah 11 Maqolah ke sebelas : dari sebagian ahli hikmah  Aulia’
(Janganlah kamu menyepelekan dosa yang kecil) kerana dengan selalu
menjalankannya maka lama kelamaa akan tumbuhlah ia menjadi dosa besar.
Bahkan terkadang murka Tuhan itu ada pada dosa yang kecil-kecil.

Maqolah 12
Dari Nabi SAW : (Tidaklah termasuk dosa kecil apabila dilakukan secara
terus menerus) karena dengan dilakukan secara terus menerus, maka akan
menjadi besarlah ia. (Dan tidaklah termasuk dosa besar apabila disertai
dengan taubat dan istighfar) Yaitu taubat dengan syarat-syaratnya.
Karena sesungguhnya taubat dapat menghapus bekas-bekas dosa yang
dilakukan meskipun yang dilakukan tersebut dosa besar. Hadits ini
diriwayatkan oleh Ad-dailamy dari Ibni Abbas RA.

Maqolah 13
(Keinginan orang arifiin adalah memujiNya) maksudnya keinginan orang
ahli ma’rifat adalah memuji Allah Ta’ala dengan keindahan
sifat-sifatnya. (dan keinginan orang-orang zuhud adalah do’a kepadaNya)
yaitu permintaan kepaad Allah sekedar hajat kebutuhannya dari du nia
dengan segenap hatinya, dimana yang dimaksud do’a adalah meminta dengan
merendahkan diri kepadaNya dengan memohon diberi kebaikan kepadanya.
(Karena keinginan orang arif ahli ma’rifat dari Tuhannya bukanlah
pahala ataupun surga) sedangkan keinginan orang zuhud adalah untuk
kepentingan dirinya sendiri, yaitu untuk kemanfatan dirinya dari pahala
dan surga yang didapatkannya. Maka demikianleh perbedaan orang yang
keinginan hatinya mendapatkan bidadarii dan orang yang cita-citanya
adalah keterbukaab hatinya.

Maqolah 14
(diriwayatkan dari sebagian hukama’) yaitu orang yang ahli mengobati
jiwa manusia, dan mereka itulah para wali Allah. -(Barang siapa yang
menganggap ada pelindung yang lebih utama dari Allah maka sangat
sedikitlah ma’rifatnya kepada Allah) Maknanya adalah barang siapa yang
menganggap ada penolong yang lebih dekat daripada pertolongan Allah,
maka maka sesungguhnya dia belul mengenal Allah. (Danbarang siapa yang
menganggap ada musuh yang lebih berbahaya daripada nafsunya sendiri,
maka sedikitlah ma’rifatnyapengetahuannya tentang nafsunya) Artinya
adalah brang siapa yang berperasangka ada musuh yang lebih kuat dari
pada hawa nafsunya yang selalu mengajak kepada kejahatan, maka
sedikitlah ma’rifatnyapengetahuannya akan hawa nafsunya sendiri.

Maqolah 15
Dari Abu Bakar Ash-Shiddiq RA. Menafsiri firman Allah Ta’ala, “Sungguh
telah nyatalah kerusakan baik di daratan maupun di lautan, maka beliau
memberikan tafsirannya (Yang dimaksud Al-Barrdaratan adalah lisan.
Sedangkan yang dimaksud Al-Bahr  lautan adalah hati). Apabila lisan
telah rusak dikarenakan mengumpat misalnya, maka akan menangislah diri
seseorang  anak cucu adam. Akan tetapi apabila hati yang rusak
disebabkan karena riya’ misalnya, maka akan menangislah malaikat. Dan
diperumpamakan hatiqalb dengan lautan adalah dikarenkan sangat dalmnya
hati itu.

Maqolah 16
(Dikatakan, karena syahwat maka seorang raja berubah menjadi hamba
sahayabudak) karena sesungguhnya barang siapa yang mencintai sesuatu
maka ia akna menjadi hamba dari sesuatu yang dicintainya. (dan sabar
akan membuat seorang hamba sahaya berumab menjadi seorang raja) karena
seoang hamba dengan kesabarannya akan memperoleh apa yang ia inginkan.
(apakah belum kita ketahui kisah seorang hamba yang mulia putra seorang
yang mulia, putera seorang yang mulia Sayyidina Yusuf AS Ash-Shiddiq,
putera Ya’qub yang penyabar, putera Ishaq yang penyayang, putera Ibrahim
Al-Khalil AS dengan Zulaikha. Sesungguhnya ia zulaikha sangat cinta
kepada Sayyidina Yusuf AS dan Sayyidina Yusuf bersabar dengan tipudayanya.

Maqolah 17
(Beruntunglah orang yang menjadikan akalnya sebagai pemimpin) dengan
mengikuti petunjuk akalnya yang sempurna (sedangkan hawa nafsunya
menjadi tahanan) (dan celakalah bagi orang yang menjadikan hawa nafsunya
sebagai penguasanya, dengan melepaskannya dalam menuruti apa yang di
inginkannya, sedangkan akalnya menjadi hambanya yaitu akal tersebut
terhalang untuk memikirkan ni’mat Allah dan keagungan ALlah).

Maqolah 18
(Barang siapa yang meninggalkan perbuatan dosa, maka akan lembutlah
hatinya), maka hati tersebut akan senang menerima nasihat dan ia
khusyu’memperhatikan akan nasihat tersebut. (Barang siapa yang
meninggalkan sesuatu yang haram) baik dalam hal makanan, pakaian dan
yang lainnya (dan ia memakan sesuatu yang halal maka akan jerniglah
pikirannya) didalam bertafakur tentang semua ciptaan Allah yang menjadi
petunjuk akan adanya Allah Ta’ala yang menghidupkan segala sesuatu
setelah kematiannya demikian pula menjadi petunjuk akan keEsaan Allah
dan kekuasaanNya dan ilmuNya. Dan yang demikian ini terjadi apabila ia
mempergunakan fikirannya dan melatih akalnya bahwa Allah SubhanaHu
Wata’ala yang menciptakan dia dari nuthfah di dalam rahim, kemudian
menjadi segumpal darah, kemudian menjadi segumpal daging, kemujdian
Allah menjadikan tulang dan daging dan urat syaraf serta menciptakan
anggota badan baginya. Kemudian Alah memberinya pendengaran, penglihatan
dan semua anggota badan, kemudian Allah memudahkannya keluar sebagai
janian dari dalam rahim ibunya, dan memberinya ilham untuk menyusu
ibunya, dan Allah menjadikannya pada awwal kejadian dengan tanpa gigi
gerigi kemudian Allah menumbuhkan gigi tersebut untuknya, kemudian Allah
menanggalkan gigi tersebut pada usia 7 tahun kemudian Allah menumbuhkan
kembali gigi tersebut. Kemudian Allah menjadikan keadaan hambanya selalu
berubah dari kecil kemudian tumbuh menjadi besar dan dari muda berubah
menjadi tua renta dan dari keadaan sehat berubah menjadi sakit. Kemudian
Alah menjadikan bagi hambaNya pada setiap hari mengalami tidur dan jaga
demikian pula rambutnya dan kuku-kukunya manakala ia tanggal maka akan
tumbuh lagi seperti semula.
Demikian pula malam dan siang yang selalu bergantian, apabila hilang
yang satu maka akan disusul dengan timbulnya yang lain. Demikian pula
dengan adanya matahari, rembulan, bintang-bintang dan awan dan hujan
yang semuanya datang dan pergi. Demikian pula bertafakur tentang
rembulan yang berkurang pada setiap malamnya, kemudian menjadi purnama,
kemudian berkurang kembali. Seperti itu pula pada gerhana matahari dan
rembulan ketika hilang cahayanya keudian cahaya itu kembali lagi.
Kemudian berfikir tentang bumi yang
gersang lagi tandus maka Allah menumbuhkannya dengan berbagai macam
tanaman, kemudian Allah menghilangkan lagi tanaman tersebut kemudian
menumbuhkannya kembali. Maka kita akan dapat berkesimpulan bahwa Allah
Dzat yang mampu berbuat yang sedemikian ini tentu mampu untuk
menghidupkan sesuatu yang telah mati. Maka wajib bagi hamba untuk selalu
bertafakur pada hal yang demikian sehingga menjadi kuatlah imannya akan
hari kebangkitan setelah kematian, dan pula ia mengetahui bahwa Allah
pasti membangkitkannya da membalas segala amal perbuatannya. Maka dengan
seberapa imannya dari hal yang demikian yang membuat kita
bersungguh-sungguh melaksanakan ta’at atau menjauhi ma’siyat.

Maqolah 19
Telah diwahyukan kepada sebagian Nabi ( Ta’atlah kepadaKu akan apa yang
Aku perintahkan dan janganlah bermaksiyat kepadaku dari apa yang Aku
nasehatkan kepadamu). Artinya dari nasihat yang dengannya seorang hamba
akan mendapatkan kebaikan dan dengan apa yang dilarang maka seorang
hamba akan tehindar dari kerusakan.


Maqolah 20
(Dikatakan sesungguhnya kesempurnaan akal adalah mengikuti apa yang
diridhai Allah dan meninggalkan apa yang dimurkai Allah). artinya apa
saja yang tidak seperti konsep di atas adalah kegilaan  tak berakal.

Maqolah 21
(Tidak ada keterasingan bagi orang yang mulia akhlaknya, dan tidak ada
tempat yang terhormat bagi orang-orang yang bodoh ). Artinya seseorang
yang bersifat memiliki ilmu dan amal maka sesungguhnyania akan dihormati
diantarea manusia di mana saja berada. Oleh karena itu di mana saja
berada layaknya mereka seperti di negeri sendiri dan dihormati.
Sebaliknya orang yang bodoh adalah kebalikannya meskipun di negeri
sendiri mereka merasa asing.

Maqolah 22
Barang siapa yang baik dalam keta’atannya kepada Allah maka dia akan
terasing diantara manusia). Artinya orang yang merasa cukup dengan
menyibukkan seluruh waktunya untuk ta’at kepadan Allah maka ia akan
terasing diantara manusia.

Maqolah 23
(Dikatakan bahwa gerakan badan melakukan keta’atan kepada ALlah adalah
petunjuk tentang kema’rifatan seseorang sebagaimana gerakan anggota
badan menunjukkan  sebagai dalil adanya kehidupan di dalamnya).
Artinya, bahwa ekspresi ketaatan serang hamba dalam menjalankan perintah
Allah maka yang demikian itu adalah petunjuk a dalil kema’rifatannya
kepada ALlah. Apabila banyak amal ta’at maka menunjukkan bahwa banyak
pula ma’rifatnya kepada Allah dan apabila sedikit ta’at, maka
menunjukkan pula sedikit ma’rifat, karena sesungguhnya apa yang lahir
merupakan cermin dari apa yang ada di dalam bathin.

Maqolah 24
Nabi SAW bersabda, (Sumber segala perbuatan dosa adalah cinta dunia,)
dan yang dimaksud dari dumia adalah sesuatu yang lebih dari sekedar
kebutuhan. (Dan sumber segala fitnah adalah mencegah  tidak mau
mengeluarkan sepersepuluh dan tidak mau mengeluarkan zakat).

Maqolah 25
(Mengaku merasa kekurangan dalam melakukan ta’at adalah selamanya
terpuji dan mengakui akan kekurangan  kelemahan dalam melakukan ta’at
adalah tanda-tangda diteimanya amal tersebut) karena dengan demikian
menunjukkan tidak adanya ujub dan takabur di dalamnya.

Maqolah 26
(Kufur ni’mah adalah tercela) maksudnya adalah dengan tidak adanya
syukur ni’mat menunjukkan rendahnya nafsu. (dan berteman dengan orang
bodoh) yaitu orang yang menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya padahal
ia mengetahui akan keburukan sesuatu tersebut. (adalah keburukan) yaitu
tidak membawa berkah . Oleh karena itu janganlah berteman dengannya
disebabkan karena buruknya akhlak  keadaan tingkah lakunya karena
sesungguhnya tabi’at itu dapat menular.

Maqolah 27
Disebutkan dalam syair….Wahai yang disibukkan oleh dunia Sungguh
panjangnya angan-angan telah menenggelamkan mereka Bukankah mereka
selalu dalam keadaan lupa – kepada Allah Hingga dekatlah ajal bagi
mereka Sesungguhnya kematian datangnya mendadak Dan kubur adalah tempat
penyimpanan amal.
Addailamy meriwayatkan hadits dari RasuluLlah SAW yang bersabda,
“Meninggalkan kenikmatan dunia lebih pahit dari pada sabar, dan lebih
berat daripada memukulkan pedang di jalan Allah. Dan tiada sekali-kali
orang mahu meninggalkan kenikmatan dunia melainkan Allah akan memberi
sesuatu seperti yang diberikan kepadapara Syuhada’. Dan meninggalkan
kenikmatan dnia adalah dengan menyedikitkan makan dan kekenyangan, dan
membenci pujian manusia karena sesungguhnya orang yang suka di puji oleh
manusia adalah termasuk mencintai dunia dan kenikmatannya. Dan barang
siapa menginginkan kenikmatan yang sesungguhnya maka hendaklah ia
meninggalkan kenikmatan dunia dan pujian dari manusia”.
Dan Ibnu Majah telah meriwayatkan sesungguhnya RasuluLlah SAW bersabda,
“Barang siapa yang niatnya adalah untuk akhirat, niscaya Allah akan
mengumpulkan kekuatan baginya dan Allah membuat hatinya menjadi kaya,
dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan hina. Dan barang siapa yang
niatnya dunia maka Allah akan menceraiberaikan segala urusannya, dan
Allah menjadikan kefakiran di depan kedua belah matanya dan tiadalah
dunia akan mendatanginya kecuali apa yang telah tertulis untuknya”.

Maqolah 28
Dari Aby Bakr Asy-Syibly RahimahuLlahu Ta’ala, Beliau tinggal di
Baghdad, berkawan dengan Syaikh Abul Qasim Junaidy Al-Baghdady bahkan
menjadi murid beliau, dan beliau hidup hingga usia 87 tahun, wafat pada
tahun 334 H dan dimakamkan di Baghdad. Dimana beliau termasuk pembesar
para sufi dan para ‘arif biLlah. Beliau berkata di dalam munajatnya :
*Wahai Tuhanku…*
*Sesungguhnya aku senang*
*Untuk mempersembahkan kepadaMu semua kebaikanku*
*Sementara aku sangat faqir dan lemah*
*Oleh karena itu wahai Tuhanku,*
*Bagaimana Engkau tidak senang*
*Untuk memberi ampunan kepadaku atas segala kesalahanku*
*Sementara Engkau Maha Kaya*
*Karena sesungguhnya keburukanku tidak akan membahayakanMu*
*Dan kebaikanku tidaklah memberi manfaat bagiMu*
Dan sesungguhnya sebagian orang yang mulia telah memberikan ijazah agar
dibaca setelah melaksanakan shalat Jum’at 7 kali dari bait syair sebagai
berikut:
Ilahy lastu lil firdausi ahla
*Walaa aqway ‘ala naaril jahiimi*
*Fahably zallaty wahfir dzunuuby*
*Fa innaka ghaafirul dzanbil ‘adziimi*
*Wa ‘aamilny mu’aamalatal kariimi*
*Watsabbitny ‘alan nahjil qawwimi*
(Hikayat) Sesungguhnya Syaikh Abu Bakr As-Syibly datang kepada Ibnu
Mujaahid. Maka segeralah Ibnu Mujaahid mendekati As-Syibly dan mencium
tempat diantara kedua mata beliau. Mmaka ditanyakanlah kepada Ibnu
Mujaahid akan perbuatannya yang demikian, dan beliau berkata,
“Sesungguhnya aku melihat RasuluLlah SAW di dalam tidur dan sungguh
beliau SAW telah mencium Syaikh Abu Bakr As-Syibly.Ketika itu
berdirilah Nabi SAW di depan as-Syibly dan beliau mencium antara kedua
mataAs-Syibly. Maka aku bertanya, ‘Yaa RasuluLlah, apakah benar engkau
berbuat yang demikian terhadap As-Syibly ?’. RasuluLlah SAW menjawab,
‘benar, sesungguhnya dia tidak sekali-kali mengerjakan shalat fardhu
melainkan setelah itu membaca Laqad jaa a kum Rasuulum min anfusikum
‘aziizun ‘alaiHi maa ‘anittum chariisun ‘alaikum bil
mukminiinarra’uufurrahiim faintawallau faqul chasbiyaLlaahu laaIlaaha
Illa Huwa ‘alaiHi tawakkaltu waHuwa Rabbul ‘Arsyil ‘adziim….setelah itu
dia As-Syibly mengucapkan salam ShallaLlaahu ‘alaika Yaa Muhammad”.
Kemudian aku tanyakan kepada As-Syibli mengenai apa yang dibacanya
setelah shalat fardhu, maka beliau menjawab seperti bacaan tadi….

Maqolah 29
Telah berka Asy-syibly, “Apabila engkau menginginkan ketenangan bersama
Allah, maka bercerailah dengan nafsumu.” Artinya tidak menuruti apa yang
menjadi keinginannya. Telah ditanyakan keadaan Asy-Syibly di dalam mimpi
setelah beliau wafat, maka beliau menjawab,’ Allah Ta’ala berfirman
kepadaku,’Apakah engkau mengetahui dengan sebab apa Aku mengampunimu ?’
Maka aku menjawab, ‘Dengan amal baikku”.
Allah Ta’ala berfirman,’Tidak’.
Aku menjawab, ‘Dengan ikhlas dalam ubudiyahku ‘.
Allah Ta’ala berfirman, ‘Tidak’.
Aku menjawab,’Dengan hajiku dan puasaku ?’
Allah Ta’ala berfirman, ‘Tidak’.
Aku menjawab, ‘Dengan hijrahku mengunjungi orang-orang shaleh untuk
mencari ilmu“.
Allah Ta’ala berfirman,’Tidak’.
Akupun bertanya, ‘Wahai Tuhanku, kalau begitu dengan apa ?“
Allah Ta’ala menjawab, ‘Apakah engkau ingat ketika engkau berjalan di
Baghdad kemudian engkau mendapati seekor anak kucing yang masih kecil
dan lemah karena kedinginan, dan ia emnggigil karenanya. Kemudian engkau
mengambilnya karena rasa kasihan kepada anak kucing itu dan engkau
hangatkan ia ?”
Aku menjawab, ‘Ya’.
Maka berfirmanlah Allah Ta’ala, ‘Dengan kasih sayangmu kepada anak
kucing yang masih kecil itulah Aku menyayangimu’.

Maqolah 30
Telah berkata Asy-Syibli, “Jika engkau telah merasakan nikmatnya
pertemuan (wushlah – dekat dengan Allah SWT) niscaya engkau akan
mengerti rasa pahitnya perpisahan (Qathi’ah-yaitu jauh dari Allah
Ta’ala) . karena sesungguhnya berjauhan dari Allah SWT merupakan siksaan
yang besar bagi AhluLlah ta’ala. Dan termasuk salah satu dari do’a SAW
adalah ,”Allahummarzuqny ladzatan nadzari ilaa wajhiKal Kariim, wasyauqu
ilaa liqaaiK”. (Yaa Allah berikanlah kepadaku kelezatan dalam memandang
wajah-Mu yang Mulia dan rasa rindu untuk bertemu dengan-Mu)

Maqolah 31
Diriwayatkan dari Nabi SAW, sesungguhnya Beliau bersabda, “Barang saiapa
yang pada waktu pagi hari (memasuki waktu subuh) dalam keadaan mengadu
kepada manusia tentang kesulitan hidupnya, maka seakanakan ia telah
mengadukan Tuhannya. “. Sesungguhnya pengaduan selayaknya hanya kepada
Allah karena pengaduan kesulitan hidup kepada Allah termasuk do’a.
adapun mengadu kepada manusia menunjukkan tidak adanya ridha dengan
pembagian Allah Ta’ala sebagaimana diriwayatkan dari AbdiLlah bin Mas’ud
RA, telah bersabda RasuluLlah SAW, “Maukah kamu semua aku ajari sebuah
kalimat yang diucapkan Musa AS ketika melintasi lautan bersama bani
israil ?“. kami semua menjawab ,”Baik Yaa RasuluLlah”. RasuluLlah SAW
bersabda,”Ucapkanlah kalimat ‘Allahumma laKal hamdu wa ilaiKal Musytakay
wa Antal Musta’aan wa laa haula walaa quwwata illa biLlahil ‘Aliyyil
‘Adhiim” (Yaa Allah segala puji hanya untuk-Mu, dan hanya kepadamulah
tempat mengadu, dan Engkaulah Penolong dan tiada daya upaya dan kekuatan
melainkan dengan pertolongan Allah Dzat Yang Maha Tinggi dan Maha Agung.
Maka berkatalah Al-A’masy, Tidaklah kami pernah meninggalkan membaca
kalimat tersebut sejak kami mendengarnya dari Syaqiq Al-Asady Al kuufy.
Barang siapa pada waktu pagi hari berduka atas perkara duniawi, maka
sesungguhnya ia telah marah kepada tuhannya. Artinya, barang siapa yang
bersedih karena urusan dunia, sesungguhnya ia telah marah kepada
Tuhannya, karena ia tidak ridha dengan qadha’ (takdir Allah) dan tidak
bersabar atas cobaan-Nya dan tidak beriman dengan kekuasaan-Nya. Karena
sesungguhnya apa saja yang terjadi di dunia ini adalah atas qadha Ilahi
Ta’ala dan atas kekuasaan-Nya.
Dan barang siapa yang merendahkan diri kepada orang kaya karena melihat
kekayaannya, maka hilanglah 23 agamanya. Artinya bahwa disyari’atkannya
penghormatan manusia kepada orang lain adalah karena alasan kebaikan dan
ilmunya bukan karena kekayaannya. Karena sesungguhnya orang yang
memuliakan harta, sesungguhnya ia telah menyia-nyiakan ilmu dan amal
shaleh. Telah berkata Sayyidy Syaikh Abdul qadir Al- Jailany RA, “Tidak
boleh tidak bagi seorang muslim pada setiap keadaannya selalu dalam tiga
keadaan, yangpertama melaksanakan perintah, kedua menjauhi larangan, dan
ketiga ridha dengan pembagian Tuhan.” Dan kondisi minimal bagi seorang
mukmin adalah tidak terlepas dari salah satu dari tiga keadaan tersebut
di atas, 32. telah berkata Sayidina Aby Bakar As-Shidiq RA, “Tiga
perkara yang tidak akan dapat diperoleh dengan tiga perkara lainnya.
Artinya ada tiga perkara, dimana tiga perkara tersebut tidak akan dapat
diperoleh dengan tiga perkara, yaitu yang pertama Kekayaan dengan hanya
berangan-angan. Sesungguhnya kekayaan tidak dapat diperoleh hanya dengan
berangan-angan akan tetapi dengan pembagian dari Allah. yang ke dua Muda
dengan bersemir. Maka tidak akan dapat diperoleh kemudaan usia hanya
dengan menyemir rambut dan lain sebagainya. Yang ketiga, Kesehatan
dengan obat-obatan.

Maqolah 32
Dari Abu Bakar As-Shidiq RA, “Tiga perkara tidak dapat di
capaididapatkan dengan tiga perkara lainnya : 1. Kekayaan dengan
angan-angan. Artinya tidaklah kekayaan itu dapat diperoleh hanya dengan
berangan-angan tanpa kerja nyata, dan pembagian dari Allah. 2. Muda usia
dengan semir. Artinya tidaklah akan diperoleh keadaan menjadi muda hanya
karena disemirnya rambut dan sebagainya. Akan tetapi orang yang sudah
bertambah usia (tua) tidaklah mungkin berubah menjadi muda kembali
meskipun dengan rambut disemir atau yang lainnya. Dan umur akan terus
berjalan hingga akhirnya habislah umur itu kembali menghadap sang
Khaliq. 3. Dan kesehatan dengan menggunakan obat-obatan. Artinya
kesehatan tidak dapat diperoleh dengan
mengkonsumsi obat-obatan akan tetapi sesuai sunnah Allah harus dengan
menjaga diri dengan makanan yang halal dan olah raga secara teratur
serta rajin beribadah.

Maqolah 33
Dari Sahabat Umar RA, “bersikap kasih sayang dengan manusia adalah
setengah dari sempurnanya aka”l. Sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu
Hiban dan Thabrani dan Baihaqi dari Jabir bin abdiLlah dari Naby SAW
bersabda, “Berperilaku baik terhadap manusia adalah shadaqah”. Artinya
berperilaku yang baik terhadap manusia melalui ucapan dan perbuatan
pahalanya sama dengan orang yang bersedekah. Dan sebagian dari
suritauladan Naby dalam bersikap baik dalam pergaulan adalah beliau
tidak pernah mencela makanan dan menghardik pelayan dan tidak pernah
memukul wanita termasuk isteri beliau. Dan yang lebih tepat untuk
perilaku yang baik ini adalah meninggalkan kesenangan duniawi karena
tuntutan agama. Dan rajn bertanya (kepada Ulama) adalah setengah dari
ilmu. Karena ilmu akan dipeorleh apabila kita rajin bertanya terhadap
segala sesuatu yang kita tidak tahu. Dan rajin bekerja adalah setengah
dari penghidupan. Karena dengan rajin bekerja kita akan memperoleh rizki
sebagai bekal untuk kelangsungan hidup kita.


Maqolah ke 37
Dari Nabi Dawud AS, Diwahyukan di dalam kitab Zabur, – Wajib bagi orang
yang berakal untuk tidak menyibukkan diri kecuali dalam tiga hal :
1. Mempersiapkan bekal untuk perjalanan ke akhirat.
2. Bergaul dengan pergaulan yang baik.
3. Bekerja dengan baik mencari rizki yang halal untuk bekal ibadah
kepada Allah karena mencari rizki yang halal adalah wajib hukumnya.

Maqolah ke 38
Dari Abu Hurairah RA. Nama beliau adalah AbduRrahman bin Shakhr. Beliau
berkata, telah bersabda Naby SAW Ada tiga perkara yang menyelamatkan
(dari adzab), tiga perkara yang merusakkan (membawa orang kepada
kerusakannya), tiga perkara meningkatkan derajat (beberapa tingkatan di
akhirat), tiga perkara menghapuskan dosa. Adapun tiga yang menyelamatkan
adalah:
1. Takut kepada Allah dalam keadaan tersembunyi maupun terang-terangan.
2. Sedang dalam faqir dan kekayaan.
3. Seimbang dalam ridha dan marah (yaitu Ridha karena Allah dan marah
karena Allah).
Adapun (tiga) yang merusakkan adalah:
1. bakhil yang bersangatan (dengan tidak mau memberikan apa yang menjadi
hak Allah dan haq makhluk). Dalam riwayat lain bakhil yang
diperturutkan. (Adapun apabila sifat bakhil itu ada dalam diri seseorang
akan tetapi tidak diperturutkan, maka tidaklah yang demikian ini
merusakkan karena sifat bakhil adalah sifat yang lazim ada pada manusia).
2. Hawa nafsu yang selalu diikuti.
3. Dan herannya (‘ujub) manusia terhadap diri sendiri. (Artinya
seseorang memandang dirinya dengan pandangan kesempurnaan dirinya
disertai lalai terhadap ni’mat Allah Ta’ala dan merasa aman dari
hilangnya ni’mat itu).
Adapun yang meninggikan derajat adalah:
1. Menebarkan salam (artinya menebarkan salam kepada orang lain yang
dikenal maupun yang tidak dikenal).
2. Memberikan hidangan makanan (kepada tamu atau orang yang menderita
kelaparan).
3. Dan shalat pada waktu malam sedang manusia sedang tertidur lelap
(yaitu mengerjakan shalat tahajud pada tengah malam ketika orang-orang
sedang lalai dalam ni’matnya tidur).
Adapun yang dapat menghapus dosa adalah :
1. Menyempurnakan wudhu pada saat yang sulit (artinya menyempurnakan
wudhu pada saat udara sangat dingin dengan menjalankan sunah-sunahnya).
2. Malangkahkan kaki untuk mengerjakan shalat berjama’ah.
3. Menunggu shalat sesudah shalat (Untuk mengerjakan shalat berikutnya
di masjid yang sama).


Maqolah ke 39 :
قال جبریل علیھ السلام یا محمد عش ما شئت فئنك میت, وأحبب من شئت فئنك
مفارقة, واعمل ما شئت فئنك مجزى بھ,
Jibril As berkata, “Ya Muhammad hiduplah sesuka engkau karena
sesungguhnya engkau akan meninggal dunia. Dan cintailah orang yang
engkau suka karena engkau pasti akan berpisah (disebabkan kematian). Dan
beramalah sesuka engkau karena engkau akan di beri pahala atas amal itu.

Maqolah ke 40 :
قال النبي صل الھ علیھ وسلم : ثلاثة نفر یظلھم الله تحت ظل عرشھ یوم لاظل
الا ظلھ. المتوضئ فى المكاره, والماشى الى المساجد فى الظلم, ومطعم الجائع.
Tiga golongan yang akan mendapatkan naungan اللهdi bawah naungan
‘arsy-Nya pada hari dimana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya. 1
orang yang berwudhu pada waktu yang sangat berat (dingin bersangatan).
2. orang yang pergi ke masjid dalam kegelapan )untuk mengerjakan shalat
berjama’ah). 3. Orang yang memberi makan orang yang kelaparan.

*Maqolah ke 41 :*
قیل لابراھیم علیھ السلام, "لأي شیئ اتخذك الله خلیلا ؟ قال بثلاثت اشیاء :
اخترت امر الله تعالى على أمر غیره, وما اھتممت بما تكفل الله لى وماتعیشت
وما تغدیت الا مع الضیف
Ditanyakan kepada Nabi Ibrahim AS, “Dengan sehingga اللهmenjadikan
engkau sebagai kekasih ?” Maka Ia menjawab, “Dengan tiga hal, Aku
memilih melaksanakan perintah اللهdaripada perintah selain الله. Dan aku
tidak bersedih hati atas apa yang telah اللهtanggung untukku (dari
rizki). Dan tidak sekali-kali aku makan malam atau makan pagi kecuali
bersama-sama dengan tamu.
Telah diriwayatkan bahwa Nabi Ibrahim AS berjalan satu mil atau dua mil
untuk mencari orang yang mau dijak makan bersamanya.

Maqolah ke 42 :
عن بعض الحكماء : ثلاثة اشیاء تفرج الغصص 1 ذكر الله تعالي, 2 ولقاء
أولیائھ, 3 وكلام الحكماء
Diriwayatkan dari sebagian ahli hikmah (orang-orang yang pandai
mengobati penyakit hati). Tiga perkara dapat menghilangkan kesusahan. 1
Dzikir kepada اللهdengan lafadz apapun seperti banyak membaca kaliamat
لاالھ الااللهdan kalimat لاحولولاقوةالابالله, atau dengan bermunajat
kepada-Nya. 2 Bertemu kekasih  Aulia-Nya dari para ulama dan
orang-orang saleh. 3 Mendengarkan kalam (nasihat) para hukama’ (orang
yang menunjukkan kepada kebajikan dunia dan akhirat).

*Maqolah ke 43*
عن حسن البصرى رضي الله عنھ : من لا أدبلھ لاعلم لھ, ومن لاصبرلھ لادین لھ,
ومن لاورع لھ لازلفى لھ.
Dari Hasan Al Bashri RA, Barang siapa yang tidak memiliki adabetika
(kepada اللهdan kepada makhluk) maka tiadalah ilmu baginya. Barang siapa
yang tidak memiliki kesabaran (karena menanggung bala’ dan menanggung
disakiti oleh makhluk, dan atas beratnya menjahui maksiyat dan atas
melaksanakan kewajiban), maka tiadalah agama baginya. Barang siapa yang
tidak wara’ (dari yang haram dan syubhat) maka tidak ada pujian
(martabat) baginya di hadapan اللهdan tiada kedekatan baginya kepada .الل

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Nashoihul Ibad dan Terjemahan online"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

loading...

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel